Hari ini aku melakukan “onani” lagi….entah sudah berapa kali aku melakukannya. Ya Allah samapi kapan aku harus begini. Mungkin aku ingin sedikit cerita…. aku mulai mengenal hal-hal porno kira-kira kelas 5 SD. waktu itu aku diajak kakak sepupu ku melihat film porno yang katanya  “film bagus”, aku penasaran kala itu “apa sich film bagus itu ??” ketika film itu di putar tak kusangka film itu adalah film porno, saat itu kita menonton adegan panas itu, bertujuh dan aku yang paling muda diantara mereka. Sejak kejadian itulah aku mulai mengenal apa itu hubungan badan / lebih dikenal dengan sex. Aku menjadi ketagihan melihat film-film seperti itu sampai sekarang, parahnya lagi aku pernah ketahuan ibuku ketika melihat film porno tersebut semasa SMP. Namun hal tersebut tak membuatku jera, aku terus saja melihat film-film itu. Tapi anehnya aku tak pernah melakukan apa yang disebut “Onani”, padahal waktu SMP aku sudah mengenal arti dari “onani” dan bagaimana cara melakukannya, namun tak terbesit olehku untuk melakukannya.

                    Tetapi ketika aku menginjak jenjang perkuliahan, tepatnya Semester 2 tahun 2006 aku sudah berani mempraktekkan ”onani”. Entah kenapa hal itu bisa terjadi,  kejadian itu berlalu saja seperti air mengelir tak ada kontrol sedikitpun dari dalam diriku. Mungkin aku melakukan itu karena aku terdorong dengan rapuhnya hatiku karena putus dari pacar pertamaku, bisa dibilang aku melakukan “onani” ketika aku sedang mengalami stress. Tak kusangka ketika melakukannya aku mendapati kenikmatan yang luar biasa dahsyat namun sebanding dengan dosa yang harus aku tanggung yang tentunya lebih dahsyat dari kenikmatan tersebut. Tetapi setelah “onani” aku lakukan, ternyata “onani” membuat orang yang melakukannya menjadi kecanduan layaknya narkoba yang memabukkan. Aku melakukannya lagi….lagiii….dan lagi….waktu itu aku bertekad ingin berubah dan berhasil namun hanya bertahan sampai 3 bulan. Setelah itu aku kembali mengulang dosa-dosa besar itu dan semakin besar juga dosa-dosaku.

                    Aku sungguh bodoh, aku tak bisa menahannya sampai-sampai pernah terbesit olehku untuk menceritakan kejadian ini terhadap wanita sholehah yang aku kenal dan aku menyukainya yang berinisial “MH” namun ide tersebut tak jua aku lakukan karena aku sangat takut dan rasa malu yang begitu besar untuk menceritakannya. Sampai pada suatu ketika ada seorang sahabat yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri menyarankan agar aku mencurahkan isi hatiku ini di dalam sebuah blog. Sekarang aku mengikuti sarannya dengan tujuan aku ingin mendapat respon dari semua pembaca yang membaca blog-ku agar mengomentari tulisanku tentang dosa besar yang aku lakukan ini. Aku sangat berbahagia sekali jika pembaca sekalian mau memberi saran dan kritik sekalipun itu adalah kritik pedas. Aku sangat termotivasi jika ada pembaca yang mau meninggalkan pesannya/kritikan untukku. Karena dengan respon para pembaca sekalian, aku bisa memperbaiki diriku walaupun harus aku tempuh dengan rasa malu.

                    Sekali lagi saya mohon untuk para pembaca yang sempat membaca tulisanku ini, tolong tinggalkan pesan/kritik agar aku malu dan memperbaiki semua dosa-dosa ini.

                     Sampai kapan aku harus mengalah ???. Pertanyaan ini selalu aku utarakan didalam hati setiap aku menghadapi adikku yang tidak pernah bersyukur atas kasih sayang yang diberikan ortu kepadanya. Setiap kali dia mendapat kasih sayang dari ortu, yang aku lakukan hanya diam menyaksikan raut mukanya yang menandakan kebahagiaan hatinya, diamku bukan karena aku iri terhadapnya, diamku karena kecewa mengapa dia tidak pernah membiarkanku merasakan kebahagiaan yang aku dapatkan dari ortuku.
                    Kenapa aku terus yang selalu mengalah terhadapnya??, ketika aku mendapatkan sedikit saja kasih sayang beliau, adikku langsung iri terhadapku, dia selalu mengucapkan kata-kata yang menggambarkan seolah-olah ortu tidak adil terhadapnya, seolah-olah aku dianak emaskan oleh kedua ortuku, hingga perkataanya sangat menusuk hati, membuatku sangat perih dan sakit sekali. padahal kasih sayang ortu yang diberikan terhadapnya sungguh begitu luas.
                    Apakah aku tidak boleh mendapatkan kasih sayang ortu ?? kenapa seolah-olah dia tidak rela ketika aku mendapatkan sedikit kebahagiaan yang aku dapatkan dari orang tuaku?? kita ini saudara dek, aku ini kakakmu, bukan musuhmu!! Tidak kah engkau merasakan sakitnya hati kakakmu ini yang terluka karena sayatan-sayatan kata-katamu yang menusuk hati?? Aku ingin kita rukun dek, aku tak ingin ada rasa iri diantara kita karena kita ini saudara kandung dek….Ya Allah kuatkanlah hatiku ini…Selimutilah hatiku ini dengan selimut kesabaranMu Ya Allah.